Dunia sepak bola tanpa rivalitas ibarat sayur tanpa garam, hambar. Rivalitas di sepakbola sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan saya berani menyatakan wajib adanya. Karena rivalitas lah yang akan menghidupi sepakbola.
Andaikata tidak ada rivalitas Aremania dengan kelompok suporter lain, rasanya semangat mendukung Arema tidak akan sebesar ini. Karena rivalitaslah kita (Aremania) mau mendukung Arema dimanapun , kapanpun dan bagaimanapun. Karena rivalitaslah kita mau menunjukan ke semua suporter, tidak hanya di Indonesia bahkan hingga seluruh dunia, bahwa kita adalah suporter yang proaktif, kreatif, cerdas dan terbaik.
Rivalitaslah yang menghasilkan Big Match, dan Big Match menimbulkan animo luar biasa. Animo ini akan menghidupi Arema dan tim lain, secara tidak langsung, dengan naiknya pemasukan dari tiket. Jadi bisa disimpulkan bahwa rivalitas itu diperlukan. Bahkan saya percaya, badan liga Indonesia dan media massa membutuhkan rivalitas antar suporter entah secara langsung maupun tidak.
Namun rivalitas ini harus memiliki pembatas. Batas itu adalah norma dan hukum. Menurut saya kita boleh saja membuat yel-yel yang tujuannya menurunkan mental lawan dan suporter yang datang ke kandang kita namun dengan beberapa syarat. Pertama adalah tidak rasis. Rasis menunjukan ketidak dewasaan kita dalam mendukung.
Bahkan FIFA pun menyanangkan gerakan anti-rasis dalam pertandingan sepak bola. Kedua adalah cukupkan rivalitas ini berjalan disaat pertandingan saja. Tidak perlu diteruskan diluar lapangan pertandingan. Tidak jarang, oknum Aremania yang kurang dewasa, merasa bahwa rivalitas itu ada disetiap saat. Bertemu orang berplat L atau D langsung tersulut emosinya. Berkenalan dengan orang Surabaya atau Bandung langsung berfikiran negatif. Jika anda yang membaca ini seperti itu, Koen Gak Dewasa Blas KER!
Kesimpulannya, Rivalitas Aremania dengan kelompok suporter lain itu wajib adanya, namun harus dibarengi dengan kedewasaan dalam pemikiran dan sikap. Salam Satu Jiwa !!!
Ditulis oleh Afif Rezza Kriswoko
